Terjebak

Terjebak pada keadaan yang serba menyulitkan sungguh tidak menyenangkan. Apalagi jika itu berkejaran dengan waktu yang tak pernah sekalipun toleran. Bisa dibayangkan pikiran dan batin berebutan ciptakan depresi yang menuakan wajah serta merentakan kulitku. Ah, Bukankah aku memang sudah renta? –Puas Fe? Far?

Mungkin memang harus teralami kejadian seperti ini, supaya pola pikir dan logiku berjalan sewajarnya. Tidak lagi bergelantungan di langit-langit khayalanku seperti hari-hari sebelumnya. Tapi apa aku salah jika khayalanku itulah yang membuatku bertahan sampai hari ini? Aku akui, khayalan adalah satu-satunya buah yang membuatku memahami orang lain. Imajinasi dan khayalan adalah sisi kepalaku yang selama ini menghidupiku. Aku tau itu…

Saat ini aku tinggal memilih, bagaimana aku harus sikapi jebakan ini dengan keyakinan yang aku miliki. Apakah aku akan beringsut perlahan sembari lepaskan jeratnya satu persatu? Atau menyerah dan terkapar di jebakan yang semakin lama sulurnya makin kuat menjeratku? Pilihan ada di tanganku.

Aku tak mau menyerah!

← Previous post

Next post →

2 Comments

  1. ayaaahh… masih hidup di dunia fantasi…?? hiks… aku malah merasa hidup di dunia yang aku bangun itu…
    tenang ayaaahh… gak sendiri kok ngerasa stuck dengan pilihan itu…

    aseekkk aku pertamax lageee…

    Mm, sebenarnya gak di Dunia Fantasi kok, karena jarang ke sana. Pas liburan gini pasti penuh banget deh. Ragunan dan tempat wisata lain sama aja…

  2. puas?? kenapa ya die….kalo itu aja sepertinya aku belum puas 🙂

    Huuuu…emang gak pernah puasssshhhhh….

Leave a Reply