Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak

Mungkin begitu yang bisa disebutkan untuk mengatakan kejadian yang aku alami hari ini. Bagaimana tidak, di tengah kemacetan padat merayap di jalan yang tak jauh dari rumahku, kendaraanku diseruduk seorang pengendara motor yang entah SIM-nya warna apa. Bukannya berhenti dan meminta maaf, biker itu langsung tancap gas tanpa rasa berdosa.

Ya ampun, semenakutkan itukah untuk berhenti dan meminta maaf? Aku bukan orang kaya, tapi aku orang yang mudah memaafkan. Aku akan berpikir seribu kali untuk minta ganti jika sikap yang ditunjukkan atas insiden itu adalah sikap yang baik, santun dan tentu gentle. Lagipula –setelah saya cek– tubrukan itu ‘hanya menggores dalam dan besar’ di bumper belakang kendaraanku. No problemo, ada asuransi.

Selama beberapa detik aku sempat memperhatikan biker slebor itu benturan terjadi: Tanpa memakai helm, rambut agak kriting, berkulit bersih, berkacamata minus, berperawakan sedang. Menurut penilaianku, penampilannya seperti orang terpelajar. Sekali lagi: SEPERTI!

Tapi sudahlah, tak ada gunanya mengharap Biker Slebor itu mengerti perasaanku atau mengharapnya memahami sopan santun/etika orang Indonesia yang dulu terkenal ramah dan santun. Percuma!

Aku juga biker, tapi sepertinya aku tidak sebodoh itu merendahkan nilai-nilai santun yang sudah diajarkan kepadaku. Jika kita baik terhadap orang, bukankan kebaikan akan kita terima juga? Bukankah apa yang kita terima adalah apa yang kita berikan…